Rasa Nasionalisme dan Persaudaraan yang Terkikis
Kita semua tahu tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, saat Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Seluruh rakyat Indonesia bersorak menyambut Proklamasi Kemerdekaan yang telah dikumandangkan Bung Karno dan pada hari itu kita semua bangsa Indonesia telah merdeka, tapi apakah sekarang kita benar-benar telah merdeka?
Merdeka yang berarti saat sebuah negara memiliki hak kendali penuh terhadap wilayah kekuasaannya tanpa ada campur tangan pihak asing memang sudah kita raih yang tak terlepas dari jasa dan perjuangan berat para pahlawan-pahlawan Indonesia yang selayaknya kita kenang. Tapi, di tahun 2009 ini saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-64, Ada berapa juta jiwa masyarakat miskin di Indonesia? Ada berapa juta jiwa masyarakat Indonesia yang tiap harinya tinggal di rumah yang tidak layak? Ada berapa juta jiwa masyarakat Indonesia yang berpendidikan rendah? Ada berapa juta jiwa masyarakat Indonesia yang tiap harinya merasakan kelaparan? Ada berapa juta jiwa masyarakat Indonesia yang tidak tahu rasanya merdeka? Dan ada berapa juta jiwa pemimpin Indonesia yang tidak memperdulikan nasib rakyat-rakyatnya? Mungkin para pemimpin bangsa ini sudah tidak mengenal Pancasila, mungkin mereka tidak paham dengan Sila Persatuan Indonesia dimana nilai ini menempatkan kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan. Para pemimpin kita lebih peduli dengan saldo akhir rekening mereka yang jumlahnya tentu saja terus meningkat dengan cara apapun termasuk dengan korupsi yang terus merajalela daripada memikirkan penderitaan jutaan masyarakat miskin, jutaan masyarakat Indonesia yang tiap harinya dipusingkan dengan hanya mencari sesuap nasi yang menjadi barang mahal bagi mereka. Ayolah para pemimpin Indonesia buka mata hati kalian, tidakkah kalian lihat saudara-saudara kita yang jauh kurang beruntung dari segi materi, satu yang harus kita ingat, kita semua bangsa Indonesia, kita semua bersaudara, kita semua satu atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
Bukan hanya rasa persatuan dan kesatuan saja yang sudah mulai luntur dari bangsa ini, rasa nasionalisme bangsa Indonesia pun sepertinya ikut luntur tergradasi oleh pengaruh budaya luar yang masuk dengan cepat ke negara ini di tengah zaman era globalisasi ini. Banyak orang yang lebih bangga jika mengenal budaya asing yang dianggapnya lebih keren dibandingkan dengan budaya etnik atau tradisional Indonesia yang sejatinya merupakan budaya kita sendiri. Ironis memang mendengarnya tapi itulah kenyataanya walaupun masih banyak orang Indonesia yang sangat peduli dengan budayanya sehingga terus melestarikannya dan mengembangkannya.
Satu lagi rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang mulai luntur yang entah dikarenakan oleh apa, Bendera Pusaka Merah Putih. Ya, Bendera Pusaka Merah Putih yang merupakan lambang dari Republik Indonesia tercinta ini sudah mulai dilupakan oleh sebagian masyarakatnya. Sedih sekali saat melihat tidak ada bendera merah putih yang berkibar di salah satu rumah orang asli Indonesia saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-64 ini. Entah apa yang menyebabkannya, mungkin karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu untuk memasang bendera di depan rumahnya, mungkin dia berpikir, “Apa sih gunanya masang bendera, gak ada pengaruhnya juga lagi walaupun gak masang”. Salah besar orang yang berpendapat demikian, secara tidak sadar dia telah mengikis rasa nasionalisme dalam dirinya dan coba bayangkan bagaimana bila setengah bahkan lebih dari masyarakat Indonesia berpola pikir seperti itu, hancurlah Indonesia ini bisa jadi mungkin anak cucu kita nanti tidak tahu siapa nama proklamator kemerdeakannya, bahkan bisa jadi anak cucu kita nanti tidak peduli negaranya sudah merdeka atau belum.
Apakah itu yang kita harapkan dari bangsa ini? Tentu saja jawabannya bukan, kita pastinya berharap Indonesia bisa menjadi negara demokarasi sesungguhnya, saat demokrasi ditegakkan setinggi-tingginya di seluruh pelosok negeri ini. Kita juga berharap Pancasila yang menjadi ideologi bangsa ini tetap dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakatnya, baik para petinggi negara maupun rakyatnya. Tentu saja kita semua menginginkan Indonesia tetap menjadi Bhinneka Tunggal Ika dan Indonesia tetap dikenal dengan budaya tradisionalnya yang indah dan beraneka ragam yang membuat kita bangga akan itu. Semua itu bisa, sangat bisa dicapai oleh bangsa Indonesia ini tapi itu memang tidak mudah. Kita bangsa Indonesia bukan hanya para pejabatnya, bukan hanya rakyatnya, tetapi kita semua para pejabat dan rakyat Indonesia yang harus bekerja sama mewujudkannya dengan asas Pancasila. Janganlah kita melupakan negeri kita sendiri, janganlah kita melupakan saudara-saudara kita di luar sana yang merasakan kelaparan di tiap harinya, saudara-saudara kita yang bergizi buruk karena orang tuanya tidak mampu memberinya makanan bergizi lengkap, saudara-saudara kita yang ditinggalkan tulang punggung keluarganya akibat bencana alam bahkan karena membela negara.
Mulailah dari sekarang untuk belajar peduli dengan nasib saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, jangan biarkan rasa persatuan kesatuan dan nasionalisme kita terkikis sehingga merugikan bangsa ini. Sadarilah pentingnya rasa nasionalisme dalam suatu negara, siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan kita kalau bukan kita sendiri para generasi penerus, lakukanlah sesuatu untuk memajukan bangsa ini, jangan terus meremehkan, mengkritik bangsa ini tanpa ada solusi yang jelas. Sudah bukan waktunya lagi kita memecah belah persaudaraan, jangan lupakan faktor pengikat keutuhan nasional kita Bhinneka Tunggal Ika, tetaplah berpegang teguh pada prinsip gotong royong, belajarlah dari pengalaman para pahlawan kita saat mengusir penjajah bahwa pesatuan dan kesatuanlah yang membuat bangsa ini menjadi kuat dan mampu merdeka. KITA BISA KALAU KITA BERSAMA! MERDEKA!
31 comments Tagged: merah putih indonesiaku di blogdetik 23 Agustus 2009
